Rahajeng Rahinan Pagerwesi

Rahajeng Rahina Saraswati
May 16, 2019
Memperingati hari BPR-BPRS Nasional 21 Mei 2019
May 16, 2019

Rahajeng Rahinan Pagerwesi

Something is wrong.
Instagram token error.
Load More
hari raya pagerwesi adalah pemujaan kepada ida bhatara guru

Hari Raya Pagerwesi adalah salah satu hari raya agama Hindu di Bali, datangnya setiap 6 bulan sekali (210) dalam kalender Bali yaitu pada Bhuda (Rabu) Kliwon wuku Sinta. Pagerwesi berasal dari kata “pager” yang berarti pagar atau perlindungan dan “wesi” berarti besi yang merupakan bahan kuat, jadi saat Hari Raya Pagerwesi tersebut bertujuan untuk memagari diri (magehang awak) dengan kuat agar jangan mendapatkan gangguan atau rusak.
.
Makna filosofis dalam perayaan Hari Pagerwesi ini adalah sebagai simbol keteguhan iman, memagari diri dengan tuntunan ilmu pengetahuan, sehingga manusia tersebut tidak mengalami kegelapan atau Awidya.

Makna Hari Raya Pagerwesi

Dalam lontar Sundarigama Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati.

Makna yang lebih dalam terkandung pada kemahakuasaan Sanghyang Widhi sebagai pencipta, pemelihara, dan pemusnah, atau dikenal dengan Uttpti, Stiti, dan Pralina atau dalam aksara suci disebut: Ang, Ung, Mang.

Pagerwesi diyakini merupakan salah satu hari yang paling baik untuk mendekatkan diri kepada Dewata sebab Dialah guru sejati sebenarnya. Karena sesunggunya pengetahuan dari Beliau itulah yang disebut PagerWesi sebenarnya. Seseorang yang memiliki pengetahuan tentang Tuhan akan memperoleh kebahagian di dunia dan akhirat. Untuk itulah kita melaksanakan pagerwesi sebagai pemujaan terhadap Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat mengisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.

Catatan:
Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, dengan adanya guru kita bisa mengetahui mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, tanpa guru kita bisa kehilangan arah dari tujuan semula sehingga tindakan bisa jadi salah arah.

sumber :
//hindualukta.blogspot.com/2016/06/pengertian-hari-raya-pagerwesi-dan-makna.html