Rahajeng Rahina Galungan Lan Kuningan

Kegiatan Sembahyang bersama BPR-BPRS dalam rangka memperingati Hari BPR-BPRS Nasional di Pura Agung Jagatnatha
20/05/2019

Rahajeng Rahina Galungan Lan Kuningan

Om Swastyastu,,

Memasuki hari raya suci Galungan dan Kuningan, perlu sedikit pemahaman kepada generasi milenial tentang makna dari Hari Raya Galungan dan Kuningan tersebut yang kami rangkum dan dikutip dari sumber-sumber website resmi tentang agama hindu.

MAKNA Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan dimaknai kemenangan Dharma (Kebaikan) melawan aDharma (Keburukan), dimana pas Budha Kliwon wuku Dunggulan kita merayakan dan menghaturkan puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan YME).

Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:

“Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep”

Artinya:

Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma.

Perayaan hari raya Galungan oleh karyawan, direksi , dan komisaris BPR TAPA dilaksanakan dengan menghaturkan sodan kecil biasanya dengan tamas di pelinggih-pelinggih BPR TAPA dan di”lungsur” untuk dinikmati bersama karyawan lain saat mulai bekerja setelah hari Raya Manis Galungan

MAKNA Hari Raya Kuningan

Hari Raya Kuningan atau sering disebut Tumpek Kuningan jatuh pada hari Sabtu, Kliwon, wuku Kuningan. Pada hari ini umat melakukan pemujaan kepada para Dewa, Pitara untuk memohon keselamatan, kedirgayusan, perlindungan dan tuntunan lahir-bathin. Pada hari ini diyakini para Dewa, Bhatara, diiringi oleh para Pitara turun ke bumi hanya sampai tengah hari saja, sehingga pelaksanaan upacara dan persembahyangan Hari Kuningan hanya sampai tengah hari saja.

Sama seperti hari raya Galungan, pada hari raya Kuningan, karyawan, direksi, dan komisaris melakukan persembahyangan dipadmasana dan pelinggih tungun karang secara perseorangan atau bersama keluarganya sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih atas pencapaian sejauh ini bekerja di BPR TAPA,

Pada hari Rabu, Kliwon, wuku Pahang, disebut dengan hari Pegat Wakan yang merupakan hari terakhir dari semua rangkaian Hari Raya Galungan-Kuningan. Sesajen yang dihaturkan pada hari ini yaitu sesayut Dirgayusa, panyeneng, tatebus kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian berakhirlah semua rangkaian hari raya Galungan-Kuningan selama 42 hari, terhitung sejak hari Sugimanek Jawa. ..

Semoga dihari raya yang suci ini semua makhluk diberikan keselamatan dan ketenangan lahir batin..

Om Shanti Shanti Shanti